Cara Mudah Belajar Mufrodat
Bahasa
arab sebagai bahasa yang hidup baik yang berbentuk klasik maupun berbentuk
modern mempunyai peranan penting dalam bidang agama, ilmu pengetahuan dan
hubungan internasional, bahkan mempunyai peranan penting pula dalam pembinaan
dan pengembangan kebudayaan nasional. Sedangkan mempelajari bahasa Arab
sangatlah penting khususnya bagi uat islam, karena bahasa Arab adalah bahasa
al-Qur`an dan juga alat untuk mempelajari serta memahami al-Quran dan hadits
serta buku-buku keislaman yang berbahasa Arab.
Dalam
bahasa Arab ada empat kemahiran (maharat), yaitu al-istima`, al-kalam,
al-qira`ah, dan al-kitabah. Media yang dipakai dalam kemahiran al-kalam dan
al-istima` adalah suara (al-shaut), yang pertama melalui komunikasi langsung
antara pembicara dan pendengar, dan yang kedua melalui pendengaran atas orang
yang berbicara atau melalui media suara. Sedangkan kemahiran al-qira`ah dan
al-kitabah terkait dengan media huruf yang tertulis.
Belajar
bahasa Arab kadang kala sulit dan kadang kala mudah, dalam hal ini sesuai
dengan problematika yang ada. Secara garis besar di Negara Indonesia dalam
pembelajaran bahasa arab mempunyai dua probelmatika, yaitu: problematika
linguistic seperti tata bunyi, kosa kata, tata kalimat, dan tulisan. Dan
problematika non linguistic seperti dalam segi sosio cultural atau sosio
budaya, dan psikologis.
Sebenarnya
factor utama kesulitan dalam belajar bahasa arab khususnya (istima` dan kalam)
adalah kurangnya dalam penguasaan kosa kata. Untuk memperbanyak sebuah kosa
kata, jika tidak diimbangi dengan adanya berbicara bahasa Arab atau menulis
bahasa Arab akan terasa sulit dan bahkan kosa kata yang diperoleh akan hilang.
Dengan demikian perlu adanya metode dalam penguasaan kosa kata yaitu:
1. Metode simulasi
Salah satu faktor keterlambatan siswa dalam
mengusai mufrodat yaitu siswa belum tumbuh rasa suka terhadap pelajaran
Bahasa Arab, dengan permainan tentunya permainan yang memiliki prinsip edukatif
siswa akan lebih mudah menghafal mufrodat yang telah diberikan.
permainan
adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan, sesuatu yang
menghibur,menarik, dan dapat meningkatkan motivasi. Dengan adanya permainan
bisa membuat kejenuhan siswa di kelas teratasi, adanya kompetensi antar siswa
sehingga menumbuhkan semangat siswa untuk lebih maju, permainan bahasa juga
bisa membina hubungan sosial siswa, materi yang dikomunikasikan dapat
meninggalkan kesan di hati siswa sehingga pengalaman keterampilan yang dilatih
sukar dilupakan.
2. Metode Drill (mengulang)
Selain dengan cara bermain, mufrodat
bisa juga diberikan secara rutin oleh guru kepada siswa, dan mendapatkan
bimbingan yang maksimal dari guru, seperti guru selalu mnegulang mufrodat
yang telah diberikan saat pertemuan yang akan datang dan guru selalu bertanya
kepada setiap siswa secara acak mufrodat yang telah diberikan sehingga
siswa akan menghafal mufrodat itu karena siswa sudah tahu pasti guru
akan menanyakan mufrodat. Dengan begitu siswa akan selalu ingat akan mufrodat
yang telah dia dapatkan, karena sering diulang.
3. Metode perjalanan lapangan
Dalam metode
ini guru dalam memberikan mufrodat kepada siswanya dengan cara langsung
terjun kelapangan yang bersangkutan dengan mufrodat yang akan disampaikan. Misalnya mufrodat
yang akan diberikan yaitu bersangkutan dengan tumbuh-tumbuhan dan tanaman. Maka
siswa langsung terjun ke lapangan. Dengan metode ini biasanya akan meninggalkan
kenangan tersendiri bagi individu siswa sehingga siswa selalu ingat mufrodat
yang diberikan oleh gurunya ketika berada di tempat itu.
Adapun
solusi dalam belajar dalam bahasa Arab (istima` dan kalam) perlu adanya sebuah
media untuk mengasah otak dan pendegaran dalam belajar bahasa Arab, seperti radio Arab, televisi Arab, maupun lagu-lagu Arab.
Selain itu perlu juga adanya latihan komunikatif yang lebih mengandalkan
kreativitas para pelajar. Dalam hal ini
keterlibatan guru secara langsung mulai dikurangi untuk memberi kesempatan
kepada siswa mengembangkan kemampuannya. Hermawan mengatakan bahwa dalam
latihan komunikatif ini adanya tahapan-tahapan.
Pertama, percakapan kelompok (al-hiwar
jama’i). percakapan ini dilakukan dengan dibagi beberapa kelompok dan
setiap kelompok membicarakan apa yang mereka dengar dari rekaman yang diberikan
oleh guru. Dan guru berkeliling ke setiap kelompok untuk mengawasinya. Dan
setelah selsai guru mendiskusikan rekaman tersebut baik mengenai isinya, pola,
intonasi dan sebagainya.
Kedua, bermain peran (al-tamsil)
pada aktivitas ini guru memberikan tugas peran tertentu yang harus dilakukan
oleh para pelajar, siswa diberi peran yang sesuai dengan tingkat penguasaan
bahasanya. Misalnya guru memberi tugas kepada siswanya untuk memperagakan
ketika dia kepasar dan menghampiri seorang pedagang, apa yang akan dia ucapkan.
Ketiga,
praktik ungkapan sosial (tathbiq al-ta’ribat al-ijtima’iyyah). Ungkapan
sosial ini merupakan perilaku sosial yang diucapkan secara lisan dalam
komunikasi, misalnya memberi hormat, mengungkapkan rasa kagum, ucapan selamat
dan sebagainya.
Keempat,
praktik lapangan (al-mumarasah fi al-mujtama’) praktik lapangan adalah
berkomunikasi dengan penutur asli di luar kelas. Misalnya ketika kita pergi ke
suatu tempat yang disana sering ditemukan orang asli Arab maka kita mencoba
untuk bercakap-cakap dengannya. Atau misalnya ketika sekolah atau instansi lain
mendatangkan penutur asli arab maka itu bisa menjadi kesempatan siswa untuk
mempraktikan percakapannya.
Referensi:
Team Penyusun Buku
Pedoman Bahasa Arab, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab Pada PTA/IAIN, (Jakarta:
PPSPA), 1976
Ahmad Arkom Manibary,
Problematika Pembelajaran Bahasa Arab Pada PTAIN, (Jakarta:Depag RI), 1976.
Ahmad Izzan, Metodologi
Pembelajaran Bahasa Arab. (Bandung: Humaniora), 2009.
Yusuf Tayar, Metodologi Pembelajaran ,( jakarta :gramedia), 1999.
Post a Comment
Post a Comment